Selasa, 09 Februari 2016

Bimbingen PA Mamre & PERMATA Tgl. 7 - 13 Februari 2016

BIMBINGEN PA MAMRE TGL. 07 - 13 FEBRUARI 2016
MAMRE KURANG IPERLENGKAPI I BAS KARAKTERNA
Nrs. Bp. Rey Tarigan

Ogen : Matius 10:16-20
Tema : MPELIMBARUI “PIRAH” (BIAK/KARAKTER)
Tujun : Mamre Ngasup :
1) Nuriken biak metenget i bas ndahiken persuruhen Dibata
2) Naksiken “pirah” geluhna si enggo ipelimbarui

Penjelasen Ogen

Inti pengajaran Tuhan Yesus kepada murid-muridNya menurut Injil Matius adalah “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat. 4:17). Bertobat berarti menyadari keberadaan diri yang penuh dengan dosa, menyesal, meninggalkan segala dosa dan berbalik kembali kepada Tuhan. Kerajaan Sorga bukan hanya berarti bahwa akhir zaman sudah dekat, tetapi juga berarti suatu keadaan hidup yang telah diperbaharui seutuhnya oleh anugerah kasih Kristus. Keadaan hidup yang telah diperbaharui seutuhnya berarti suatu keadaan hidup yang berubah tujuannya, tidak lagi berorientasi kepada dosa tetapi mengarahkan hidup ini seutuhnya kepada Kristus. Keadaan ini terlihat misalnya pada para murid Tuhan Yesus dalam Mat. 4:18-22. Ketika Tuhan Yesus memanggil murid-muridNya untuk mengikutiNya, maka merekapun “meninggalkan jalanya dan mengikut Dia” (Mat. 4:20). Kalimat ini merupakan simbolisasi pertobatan, yaitu meninggalkan masa lalu dan masuk dalam suatu kehidupan baru yang berorientasi seutuhnya kepada Kristus. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bahwa tujuan kehadiran Tuhan Yesus ke tengah dunia ini bukan hanya memberitakan berita keselamatan tetapi juga berita tentang pertobatan, yaitu suatu perubahan hidup yang secara konkrit bisa dirasakan dampaknya baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain.
Bahan Alkitab (Mat. 10:16-20) tidak bisa dilepaskan dari inti pengajaran Yesus Kristus tentang pertobatan. Bila kita perhatikan pasal 10 mulai dari ayat 1, setelah para murid bertobat dan menerima berbagai pengajaran dari Yesus Kristus, maka mereka diutus untuk melakukan misi Kristus, yaitu memberitakan kabar pertobatan dan keselamatan kepada dunia ini. Dalam pengutusan tersebut, Tuhan Yesus memberikan berbagai petunjuk tentang berbagai hal yang harus dilakukan serta pemberitahuan tentang keadaan atau situasi yang harus dihadapi ketika mereka memberitakan kabar pertobatan dan keselamatan. Secara khusus pada ay. 16-20 Tuhan Yesus memberikan gambaran bahwa keadaan yang akan dihadapi oleh para murid bukanlah suatu keadaan yang nyaman melainkan penuh dengan tantangan. Tantangan tersebut digambarkan melalui lambang “serigala” (ay. 16). Lambang “serigala” dipakai untuk menggambarkan karakteristik orang-orang dunia ini yang selalu ingin berbuat jahat, merusak, dan membinasakan. Tantangan lain yang harus dihadapi digambarkan melalui  istilah “penguasa-penguasa” (ay. 18, Yun. hegemon). Istilah “penguasa-penguasa” dipakai untuk menggambarkan daya (energi negatif), kekuatan atau kekuasaan jahat yang ada di tengah-tengah dunia ini yang selalu ingin menghambat dan menghancurkan misi Kristus.
Untuk menghadapi keadaan ini Tuhan Yesus menasihatkan agar para murid bersikap waspada dan tulus hati, yang digambarkan dengan lambang “ular” dan “merpati”. Lambang “merpati” dipakai untuk menggambarkan ketulusan, yaitu suatu sikap yang penuh dengan kesungguhan, bersih hatinya, jujur. Sedangkan lambang “ular” dipakai untuk menggambarkan kewaspadaan, yaitu suatu sikap penuh dengan kehati-hatian, kritis atau cerdas dalam mengelola suatu keadaan (cerdik). Namun tidak hanya sampai di situ, Tuhan Yesus juga mengingatkan bahwa para murid tidak sendirian dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, mereka akan disertai Roh Kudus yang memberikan kekuatan, hikmat, penghiburan, dsb. (ay. 20).

Pengkenaina

Tema “Mpelimbarui “Pirah” (Biak/Karakter)”, dengan subtema “Mamre kurang iperlengkapi i bas karakterna”. Tujun, Mamre ngasup: 1) Nuriken biak metenget i bas ndahiken persuruhen Dibata; 2) Naksiken “pirah” geluhna si enggo ipelimbarui. Tema dan subtema mungkin menggambarkan konteks Mamre secara umum yang masih harus diperlengkapi karakternya. Untuk tujuan yang pertama sepertinya Mamre sudah sangat fasih menjelaskan tentang “biak metenget” dan hal-hal apa saja yang harus dilakukan sebagai pengikut Kristus. Persoalan mungkin muncul ketika harus mewujudnyatakan iman kepada Kristus dalam hidup sehari-hari yang merupakan tujuan kedua. Padahal tujuan kedualah yang menjadi inti dari pengajaran Tuhan Yesus, yaitu bertobat dan hidup dalam pertobatan sebagai wujud nyata manusia yang telah diselamatkan. Hal ini yang perlu terus-menerus diupayakan agar dapat diwujudkan dalam kehidupan kita sebagai Mamre. Karakter, biak, atau pirah, tidak terbentuk dalam waktu singkat, namun karakter Kristus tidak akan pernah terbentuk dalam diri kita jika kita tidak memulai untuk membentuknya di dalam diri kita. Tentu saja akan ada banyak tantangan, tetapi kita harus ingat bahwa kita tidak sendiri dalam menghadapi tantangan, ada Roh Kudus yang memberikan kekuatan, hikmat dan penghiburan.
Sekali nari i bas bahan PA enda ipersingeti maka tugasta i doni enda e me maba misi  i bas Tuhan nari guna ngelaken kata ras keleng ateNa (Mat. 28:19 “mencari jiwa-jiwa yang terhilang”). Kita khususna Mamre sebage persuruhen Dibata la banci lang geluhta lebe jadi usihen man kalak si deban. La nari berhasil kalimat, “Cakapku e begiken, tapi ula nehenndu aku”. Karakterta sebage persuruhen Dibata enggo pasti harus ngusih karakter Kristus. Tantangen sebage persuruhen Tuhan enggo pasti mbue (desken biri-biri i tengah-tengah srigala). E maka arus lit kesabaren, keberanian, kekelengen, kinigenggengen, penguasan diri, tanggung jawab, integritas ras karakter-karakter si mehuli si debanna.

BIMBINGEN PA PERMATA TGL. 8 - 14 FEBRUARI 2016
Nrs. Bp. Rey Tarigan

Isi : PERMATA GBKP E ME RUDANG-RUDANG GEREJA
Bahan : Yakobus 1:22-25

Penjelasen Bahan

Surat Yakobus ditujukan kepada dua belas suku Israel yang telah percaya kepada Yesus Kristus yang tersebar di luar Israel. Sebagaimana surat-surat pastoral (penggembalaan) lainnya, Surat Yakobus bertujuan agar jemaat-jemaat yang tersebar di luar Israel tetap terbina imannya kepada Yesus Kristus. Yakobus pasal 1 merupakan pendahuluan surat yang berisi salam dan beberapa nasihat yang tujuannya menguatkan atau  meneguhkan iman jemaat agar tetap bertahan dalam berbagai macam pencobaan. Dari uraian secara keseluruhan pasal 1, dapat kita gambarkan bagaimana kondisi jemaat-jemaat pada waktu itu. Misalnya pada ay. 5-8 terlihat kesan bahwa ada sebagian jemaat yang kurang bijaksana sehingga harus meminta hikmat kepada Tuhan. Pada ay. 9-11 terlihat kesan bahwa ada kesenjangan di antara jemaat. Pada ay. 12-18 terlihat kesan bahwa masih banyak jemaat yang mudah tergoda untuk berbuat dosa. Pada ay. 19-27 terlihat kesan bahwa masih banyak jemaat yang belum taat menjadi pelaku-pelaku Firman Tuhan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kondisi kehidupan jemaat pada waktu itu masih belum mencerminkan kehidupan jemaat yang telah diubahkan oleh anugerah keselamatan di dalam Kristus.
Bahan PA, Yak. 1:22-25, secara khusus ditujukkan kepada jemaat-jemaat yang: 1) hanya mau mendengarkan firman Tuhan saja tetapi tidak mau melakukannya dalam hidupnya sehari-hari (ay. 22-24); 2) merasa dirinya sudah taat beragama tetapi ketaatannya itu tidak nyata dalam perkataannya dan perbuatannya (ay. 26). Dalam hal ini rasul Yakobus memberikan dua nasihat, yaitu: 1) Ay. 25, ketika seseorang benar-benar mempelajari kebenaran firman Tuhan dan melakukannya, maka firman Tuhan itu akan memerdekakan dirinya. Artinya, firman Tuhan itu berkuasa mengubahkan jika dipahami dan dilakukan. Selain itu firman Tuhan akan benar-benar menjadi berkat bagi dirinya sendiri maupun orang lain ketika dipahami dan dilakukan. 2) Ay. 27, ibadah yang sesungguhnya bukan terletak pada pelaksanaan seremonial di rumah-rumah ibadah, tetapi terletak pada tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pengkenaina

Ada sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa banyak orang beragama tetapi tidak beriman. Dengan kata lain, ketika seseorang menyatakan dirinya sebagai orang yang beragama maka keberagamaannya itu harus tampak dalam perilakunya. Sementara itu tidak ada satu agamapun yang berani mengklaim dirinya sebagai agama yang mengajarkan hal-hal buruk yang merugikan kalangan sendiri maupun orang-orang lain yang tidak seagama. Artinya, semua orang beragama seharusnya berperilaku baik sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing. Seberapa besar dampak orang beragama tetapi tidak beriman? Dampaknya sangat besar dalam hidup sehari-hari. Misalnya, maraknya pemberitaan tentang korupsi di media massa. Siapakah pelaku korupsi? Semuanya adalah orang-orang yang mengaku dirinya beragama dan sebagai akibat perbuatannya rakyat dirugikan. Siapakah pelaku pemboman di tempat-tempat umum akhir-akhir ini? Semuanya adalah orang-orang yang mengaku dirinya beragama dan sebagai akibat perbuatannya banyak orang terluka dan mati sia-sia. Tentu bisa kita bayangkan bagaimana bobroknya suatu bangsa jika ada agama yang menghalalkan hal-hal tersebut di atas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa beragama mengandung konsekuensi yang harus bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia.
Dalam kehidupan berjemaat, gereja bukanlah suatu jaminan bahwa orang-orang di dalamnya adalah orang-orang beriman kepada Kristus. Surat Yakobus menggambarkan kenyataan itu. Banyak contoh yang memperlihatkan bahwa ada banyak jemaat yang mengaku dirinya Kristen tetapi menjadi batu sandungan bagi jemaat lainnya. Melihat kenyataan tersebut rasul Yakobus memberikan banyak nasihat yang intinya adalah apa yang diimani itu juga yang seharusnya tampak nyata dalam hidup sehari-hari, membawa perubahan ke arah yang semakin baik, berdampak positif sehingga menjadi berkat bagi diri sendiri dan orang lain.
Isi atau tema PA PERMATA adalah “PERMATA GBKP e me rudang-rudang Gereja”. Rudang-rudang di sini bisa diartikan sebagai hiasan (aksesoris) belaka, atau rudang-rudang yang mengubah suasana dari yang gersang menjadi segar, dari yang beraroma busuk menjadi beraroma semerbak wangi seperti melati. Sampai sejauh mana PERMATA telah membawa perubahan yang signifikan dalam konteks GBKP? Sejarah telah memperlihatkan perubahan-perubahan positif yang telah dihasilkan PERMATA untuk kemuliaan nama Tuhan dalam konteks GBKP. Tetapi yang patut direnungkan adalah, apakah PERMATA sudah merasa cukup puas dengan hal itu? Sebaiknya memang PERMATA tidak stagnan berpuas diri dengan apa yang sudah diraih, karena perubahan bukan hanya perubahan yang sifatnya fisik berkaitan dengan pembangunan GBKP, tetapi lebih daripada itu adalah perubahan pola berpikir dan berperilaku sehingga dapat berdampak luas bukan hanya untuk kalangan sendiri tetapi juga untuk dunia ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar