Rabu, 18 Januari 2023

SUPLEMEN KHOTBAH MINGGU GBKP 22 JANUARI 2023

Minggu Epiphanias III
Pdt. Larena Sinuhadji (Nd. ReyRapha)
 
Invocatio : “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia” (2 Timotius 2 : 21)
Bacaan I (Ogen) : Kisah Para Rasul 9:32-43 (Tunggal)
Khotbah : Yehezkiel 36:33-37 (Anthiponal)
Tema : TUHAN MEMPERBAHARUI BANGSA-NYA
 
PENGANTAR
 
Pada tahun 2014 Presiden Joko Widodo mencanangkan semboyan “Revolusi Mental”. Tujuannya tentunya untuk memperbaharui pola pikir dan tingkah laku masyarakat Indonesia yang dimulai dari birokrasi pemerintahan. Setelah hampir 10 tahun Presiden Joko Widodo memerintah, apakah sudah terjadi revolusi mental itu? Kita dapat menjawabnya secara pribadi. Tetapi yang ingin disampaikan di sini adalah, sehebat apapun pemerintah mencanangkan pembaharuan birokrasi tidak akan tercapai apabila tidak didukung oleh semua pihak, khususnya didukung oleh masyarakat. Seperti itulah kira-kira khotbah kita pada kesempatan ini.
 
PENJELASAN BAHAN ALKITAB
 
Pembacaan Firman I (Ogen)
 
Setelah jemaat mula-mula mengalami penyiksaan (ps. 5:17, 8:1b). Selang beberapa waktu, jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlah mereka semakin bertambah besar dalam pertolongan dan penghiburan Roh Kudus (ps. 9:31). Rasul Petrus mengadakan perkunjungan ke beberapa daerah dalam rangka memberi penguatan kepada jemaat. Petrus singgah kepada orang-orang kudus di Lida. Di sana Petrus melakukan mujizat dengan menyembuhkan Eneas yang sudah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. Eneas sembuh dari lumpuhnya karena kuasa Yesus Kristus, “Yesus Kristus menyembuhkan engkau”. Melalui mujizat itu semua penduduk Lida dan Saron yang melihat hal tersebut berbalik kepada Tuhan.
 
Demikian halnya ketika di Yope, ada seorang murid perempuan yang bernama Tabita (Yun. Dorkas) mengalami sakit dan akhirnya meninggal. Walaupun secara fisik meninggal, tetapi karya dan kebaikannya tetap hidup. Karena selama hidupnya Tabita banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah, maka ketika ia meninggal banyak janda yang menangisinya sambil menunjukkan semua baju dan pakaian yang dibuat Tabita. Kembali Tuhan menyatakan kuasaNya dengan membangkitkan Tabita. Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
 
Dari kedua mujizat yang terjadi di Lida dan Yope membuat banyak orang berbalik kepada Tuhan bahkan percaya kepada Tuhan. Berbanding terbalik dengan yang terjadi di beberapa kota di mana Yesus melakukan banyak mujizat tetapi tidak ada pertobatan (bdk. Matius 11:23, “Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ IA paling banyak melakukan mujizat-mujizatNya). Artinya dalam hal ini bukan soal mujizatnya, tapi bagaimana kita menghayati kuasa Allah yang bekerja dalam hidup kita. Bila kita betul-betul menghayati kuasa Tuhan sebagai tanda kasihNya, maka kita akan bertobat dan berupaya melakukan kehendakNya dalam kehidupan kita. Bila tidak, maka seribu mujizat pun tidak akan mengubahkan hidup kita (bdk. Lukas 16:31, “Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati”).
Kembali ditekankan, kalaupun sudah ada pemberitaan firman, bahkan mujizat terjadi, kalau seseorang itu tetap mengeraskan hatinya, maka tidak akan terjadi pembaharuan dalam hidupnya.
 
Bahan Khotbah
 
Yesezkiel adalah nabi juga imam keturunan Zadok. Dia bertugas di Bait Suci Yerusalem ketika Babel menyerang kota itu pada thn. 597 SM. Melalui penglihatannya, Yehezkiel sudah menubuatkan malapetaka yang akan menghancurkan Yerusalem. Hal ini terjadi karena dosa-dosa bangsa Israel. Mereka beribadah kepada allah-allah lain dan lebih suka mengandalkan raja-raja asing daripada mengharapkan pertolongan dari Allah. Selain berita hukuman, Yehezkiel juga menyampaikan nubuat yang membangkitkan harapan akan masa depan yang lebih baik. Tuhan berjanji akan membebaskan mereka dari pembuangan dan menuntun mereka kembali ke Yerusalem.
 
Bahan khotbah kita berbicara tentang pentahiran yang dilakukan Tuhan terhadap umatNya (judul ps. 36, “Pembaharuan Israel”). Pembaharuan yang dilakukan Tuhan dimulai dari bagian inti dalam hidup umatNya, yaitu hati dan roh (ay. 26-27), sehingga umat menjadi taat kepada Allah. Ada 4 kata “Aku” yang mewakili Tuhan. Bahwa Tuhan akan mentahirkan umatNya dari segala kesalahan, Tuhan akan membuat kota-kota didiami lagi dan reruntuhan-reruntuhan akan dibangun kembali. Tanah yang sudah lama tandus akan dikerjakan kembali sehingga umat akan berkata, tanah ini seperti Taman Eden. Kota-kota yang sudah runtuh, sunyi sepi dan musnah, kembali didiami dan menjadi kubu.
 
Semua ini terjadi karena kuasa Tuhan. Bahkan bangsa-bangsa lain pun akan mengetahui bahwa pembaharuan (pentahiran) ini dilakukan oleh Tuhan. Bukan karena hebat dan spesialnya bangsa Israel, tetapi semua karena kebaikan Tuhan, dan semata-mata karena Allah ingin menguduskan namaNya kembali. Kerena ketika umat dihukum, maka Allah dianggap tidak menepati janjiNya, yang bertentangan dengan kekudusanNya. Karena di dalam kekudusan Allah ada kebaikan, kesetiaan dan kesempurnaan. Dan ini menjelaskan mengapa cemoohan bangsa-bangsa lain merupakan pencemaran nama Allah yang kudus. Apa yang dilakukan Allah adalah dalam rangka memulihkan namaNya yang sudah dinajiskan oleh dosa umatNya agar kembali dikuduskan dan dimuliakan.
 
APLIKASI
 
Allah terus bekerja untuk memperbaharui umatNya sehingga kita menjadi alat di tanganNya. Orang yang belum dibaharui, tidak mungkin mempengaruhi orang lain untuk memperbaharui dirinya. Bahkan sebaliknya, kita menjadi batu sandungan (bdk. Invocatio).
Allah terus bekerja menyatakan kasih dan kuasaNya dalam hidup kita mulai dari bangun pagi sampai pagi kembali. Oleh karena itu harus ada kesadaran dalam diri kita untuk merespon kasihNya. Jangan menunda-nunda waktu yang diberikan Tuhan. Kesempatan untuk memperbaharui diri dimulai dari diri kita dan saat ini. “Ula tertaren-taren”. Apa yang mau kita baharui? Bisa jadi kedagingan, kemalasan, keegoisan, tinggi hati, gaya hidup hedonis, dll. Atau sebagaimana yang disebutkan di dalam Galatia 5:19-21. Kita diingatkan dan diajak untuk selalu merespon pembaharuan yang Allah lakukan.
Manusia yang sudah dibaharui Tuhan harus tetap memuliakan Tuhan dalam hidupnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Petrus, Dorkas (Tabita). Memberitakan kabar baik (kabar sukacita) melalui kata dan perbuatan. Petrus setelah dipulihkan (dibaharui) Tuhan sungguh-sungguh menjadi alat di tangan Tuhan. Demikian halnya Tabita, melalui materi, talentanya dia menjadi berkat bagi banyak orang miskin dan para janda. Tuhan. Mari tetap kita memuliakan Tuhan melalui seluruh hidup hidup (Soli Deo Gloria).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar